Kamis, 05 Mei 2016

TEORI PSIKOANALISA

Sing ini pingin nge-share tugas ku semester satu....
ya barangkali bisa jadi inspirasi buat yang lain. tapi inget sebelun copas di baca dulu jangan langsung copas. nanti dimarahin dosen  ga dapat ilmunya. hihih :D



TEORI –TEORI PSIKODINAMIK (KLINIS)

I.                 TEORI SIGMUND FREUD
Sigmund Freud  lahir di moravia, 6 mei 1856. Merupakan seorang yang menemukan Teori psikodinamika. Dia memberi nama aliran psikologi yang ia kembangkan dengan nama psikoanalisis. Dalam teorinya Teori Psikoanalisis hanya membicarakan tentang kepribadian khussnya dari segi segi struktur, dinamika, dan perkembangan.
1.1  Struktur kepribadian
Kepribadian terdiri dari 3 unsur pokok id, ego, super ego.
a.       ID
Kepribadian yang diwariskan dan sudah ada sejak lahir. Cara kerja id di sebut prinsip kenikmatan (pleasure principle) dengan tujuan untuk mendapat keseimbangan. Untuk mendapat kenik matan id memiliki 2 proses tindakan refleks (reaksi otomatis. misal:bersin, berkedip) dan proses primer ( menghentikan tegangan dengan berkhayal. Misal : membyangkan makan ketika lapar)
b.      Ego
Aspek kepribadian yang di dapat dari interaksi individu dengan lingkungan. Berfungsi  menuntun individu pada kenyataan dengan dasar prinsip realitas (reality principle). Misal orang yg lapar harus mencari, menemukan dan memakan makanan sampai laparnya hilang. Proses yang tidak simple ini di sebut juga proses sekunder
c.       Super ego
Perwujutan dari nilai-nilai dan norma-norma idealis dengan batasan tertentu sehingga tiap individu diharapkan bisa menuju ke kesempurnaan. Misal pemberian hadiah dari orangtua untuk tindakan anak yang benar dan hukuman untuk kesalahan. Fungsi utama dari super ego : pengendali naluri agar dapat disalurkan sesuai nilai/norma, mengarahkan ego sesuai norma, mendorong pada kesempurnaan


1.2  Dinamika kepribadian
Energi psikis (pikiran) dapat di ubah menjadi energi fisik begitupun sebaliknya. Titik hubung antar energi adalah id dan insting
a.       Insting (naluri)
Adalah perwujudan psikologis dari tubuh karena adanya kebutuhn dari tubuh. \
-          Insting hidup : berkaitan dengan memenuhi kebutuhan tumbuh kembang. misal seks
-          Insting mai    : berkaitan dengan keinginan untuk mati, merusak dan membunuh
b.      Kecemasan
Berfungsi memperingatkan individu akan adanya bahaya. Dibagi menjadi 3
          Kecemasan objektif (realita)   : ketakukan akan bahaya nyata. Misal bencana alam
Kecemasan neuritis                  : ketautan akan hukuman/ kesalahan. Misal anak                                                                             takut di hukum
-                     Kecemasan oral                         : ketakutan akan suara hati. Misal Takut melakukan                                                                                 sesuatu

1.3  Perkembangan kepribadian

a.  Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian

Dipengarui oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Cara mengatasi keteganagan dengan: Identifikasi,sublimasi,mekanisme pertahanan ego.

b. Tahap-tahap perkembangan kepribadian
Bagian tubuh yang pekaterhadap rangsangan
1)        Fase oral (oral stage)           : 0 - 18 bulan. Mulut .
2)  Fase anal (anal stage)            : 18 bulan- 3 tahun. Anus
3)  Fase falis (phallic stage)         : 3 - 6 tahun. Alat kelamin
4) Fase laten (latency stage)         : 6 – pubertas. dorongan seks cenderung bersifat laten                                           atau tertekan
5) Fase genital (genital stage)     : pubertas – akhir. Organ reproduksi



II.             TEORI KEPRIBADIAN ERIK H. ERIKSON
Terdapat 8 tahapan pada teori erikson
  • 1.      Tahap I         kepercayaan verss kecurigaan dasar (0-1 tahun) : belajar menepis                                    kekecewaan & menemukan pengharapan
  • 2.      Tahap II       Otonomi vs perasaan malu & keragu-raguan (l-3 tahun) : belajar                                       mengontrol dan di kontrol serta rasa malu saat kehilangan kontrol
  • 3.      Tahap III      Inisiatif vs Kesalahan (3-6 tahun) : belajar menampilkan diri
  • 4.      Tahap IV      Kerajinan Vs inferioritas (6-12 tahun) : belajar rajin dan persaingan                                   pendidikan
  • 5.      Tahap V       Identitas vs kekacauan identitas (12-20 tahun) : mencari identitas diri
  • 6.      Tahap VI      Keintiman vs Isolasi (masa dewasa muda, 20-30 tahun) : belajar                                       menyatukan     identitas dengan lingkungan. Ketidak berhasilan                                           menyebabkan kesendirian
  • 7.      Tahap VII    Generativitas vs stagnasi (masa dewasa menengah, 30-65 tahun) :                                     memberikan balasan terhadap lingkungan dan timbul rasa kepeduian.                                 Ketidak berhasilan menyebabkan kemiskinan
  • 8.      Tahap VIII   Integritas vs keputusasaan (masa dewasa akhir, 65 tahun ke atas) :                                    membanggakan diri sendiri, ke tidak berhasilan menyebabkan putus asa                             dalam             hidup.


III.         TEORI CARL GUSTAV JUNG
3.1 Struktur Kepribadian
    Kepribadian adalah keseluruhan sistem yang berbeda (pikiran,perasaan dan tingkah laku) namum saling berinteraksi. Sistem – sistem terpeting :
a.       Kesadaran dan ego                  : pikiran-pikiran sadar
b.      Ketidak sadaran pribadi          : pengalaman yang pernah ada namun ingin atau terlupakan
c.       Ketidak sadaran kolektif         : pengalaman masa lampau yang dibawa leluhur



Cara mengenali ketidak sadaran
·         ·    Arkhetipe-Arkhetipe
Arkhetipe adalah suatu ide universal yang terdapat unsur emosi yang tinggi. menciptakan gambaran-gambaran dalam kehidupan sadar normal berkaitan dengan aspek tertentu pada situasi.
·         ·    Persona
Persona adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta terhadap kebutuhan-kebutuhan arkhetipal sendiri(Jung,1945). Tujuan topeng adalah menyembunyikan sisi lain pengguna.
·         ·    Anima dan animus
Manusia hakikatnya adalah makhluk biseksual. laki-laki mengeluarkan hormon seks laki-laki maupun perempuan, demikian juga wanita.Pada sifat-sifat maskulin dan feminin terdapat pada kedua jenis. Jung mengaitkan sisi feminine kepribadian pria dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Arkhetipe fenimin pada pria disebut anima, arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus (Jung,1945,1945b).
·         · Bayang-bayang
Bayang-bayang mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia. Sebagai arkhetipe ,bayang-bayang melahirkan dalam diri kita konsepsi tentang dosa asal; apabila bayang-bayang diproyeksikan keluar maka ia menjadi musuh
·         ·   Diri (Self).
Arkhetipe yang mencerminkan perjuangan manusia kearah kesatuan (Wilhelm dan Jung 1931). Diri adalah titk pusat kepribadian, disekitar mana semua sistem lain terkonstelasikan. Ia mempersatukan sistem-sistem ini dan memberikan kepribadian dengan kesatuan, keseimbangan dan kestabilan pada kepribadian.
a.     Sikap
Jung membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian,yakni sikap ekstraversi dan sikap introversi. Sikap ektraversi mengarah sang pribadi ke dunia luar, dunia objetif; sikap introversi mengarahkan orang ke dunia dalam,dunia subjektif (1921). Kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam kepribadian tetapi biasanya salah satu diantaranya dominan dan sadar. Apabila ego lebih bersifat ekstavert dalam relasinya dengan dunia, maka ketidaksadaran pribadinya akan bersifat introvert

b.     Fungsi
Ada empat fungsi psikologis fundamental:
a. Pikiran         :Berpikir melibatkan ide-ide dan intelek.
b. Perasaan      :Sebagai evakuasi untuk mendalami banak rasa
c. Pendiriaan   :Pendirian adalah fungsi perceptual atau fungsi kenyataan.
 d. Intuisi         : Intuisi adalah persepsi melalui proses-proses tak sadar dan isi di bawah                              ambang kesadaran.
3.2 DINAMIKA KEPRIBADIAN
          a.      Energi Psikis
Energi yang menjalankan fungsi kepribadian disebut energi psikis(Jung,1948b). Energi psikis merupakan awal energi kehidupan, yakni energi organisme sebagai sistem biologis. Energi psikis lahir seperti semua energi vital lain,yakni dari proses-proses metabolik tubuh. Keinginan, kemauan, perasaan, perhatian, dan perjuangan adalah contoh-contoh dalam kepribadian; disposisi, bakat, kecenderungan, kehendak hati, dan sikap adalah contoh-contoh daya potensial.
·            Nilai-Nilai Psikis.
Jumlah energi psikis yang tertanam dalam salah satu unsur kepribadian disebut nilai dari unsur itu. Ide atau perasaan tersebut memainkan peranan pentingdalam mencetuskan dan mengarahkan tingkah laku.
·           Daya Konstelasi Suatu Kompleks.
Nilai-nilai tak sadar harus ditentukan dengan menilai “daya konstelasi unsur inti suatu kompleks“ yang terdiri dari jumlah kelompok-kelompok item yang dihubungkan oleh unsur inti kompleks. Jung membicarakan tiga metode yang dapat dipakai untuk menaksir daya konstelasi unsur inti :
1) Observasi langsung plus deduksi-deduksi analitik. Melalui observasi dan inferensi kita dapat mengestimasikan jumlah asosiasi yang terikat pada suatu unsur inti.
2) Indikator-indikator kompleks. Indikator kompleks adalah suatu gangguan tingkah laku yang menunjukkan adanya kompleks.
3) Intensitas ungkapan emosi. Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap suatu situasi merupakan ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks.
         b.     Prinsip Ekuivalensi.
Energi yang di keluarkan untuk menghasilkan kondisi tertentu akan muncul di tempat lain pula.
3.3 PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1. Kausalitas versus Teleologi
2. Sinkronisitas                       : Prinsip sinkronisitas kiranya akan memperbaiki pandangan bahwa                                                   pikiran menyebabkan terjadinya hal-hal yang dipikirkan
3. Hereditas                             : insting memelihara dir dan berreproduksi
4. Tahap-tahap perkembangan
5. Progresi dan Regresi           : mempersatukan suatu arus proses psikis yang terkoordinasi                                                 dan harmonis.

6. Proses individuasi               : proses realisasi diri
7. Fungsi transenden               : Apabila keanekaragaman telah dicapai lewat proses                                                           indiiduasi, maka sistem-sistem yang berdiferensiasi itu                                                        kemudian diintegrasikan oleh fungsi transenden
8. Sublimasi dan represi         : Sublimasi menyebabkab psikhe bergerak maju, sedangakan                                                  represi menyebabkan psikhe bergerak mundur
9. Perlambangan                     : melambangkan tingkat perkembangan




IV.          TEORI ALFRED ADLER

A.    Finalisme Fiktif
Adler terpengaruh filsafat hans Vaihinger yang mengembangkan gagasan akan gamabaran fiktif. Gambaran-gambaran fiktif ini misalnya: “semua manusia diciptakan sama”;  “kejujuran adalah politik yang paling baik”; “tujuan membenarkan sarana”, dan lain-lain.
Adler menemukan ide bahwa manusia lebih dimotivasi oleh harapan-harapannya tentang masa depan daripada masa lampau. Misalnya apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang baik dan neraka bagi orang jahat, maka perilaku akan terdorong oleh kepercayaan-kepercayaan tersebut.  Tujuan akhir itu berupa suatu fiksi yang tidak mungkin secara realistis dilakukan.
B.     Perjuangan ke arah Superioritas
Adler memberi kesimpulan bahwa agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu diganti dengan “hasrat dan kekuasaan”. Karena itu tujuan akhir manusia menurut Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan. Ia merupakan dorongan kuat ke atas. Perjuangan ini sifatnya bawaan, dan merupaka bagian dari hidup. Dari lahir sampai mati perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi dari satu tahap perkembangan ke perkemabangan lainnya.
C.    Inferoritas dan Kompensasi
Adler mengemukakan bahwa yang menentukan letak gangguan tertentu adalah inferoritas dasar pada bagian itu, suatu inferoritas yang timbul karena hereditas maupun karena kelainan sesuatu dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati orang cacat sering kali mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuat latihan secara intensif, misalnya Theodore Roosevelt yang lemah pada masa mudanya, tetapi berkat latihan yang sistematik akhirnya menjadi orang yang berfisik tegap.
Perasaan inferoritas merupakan perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh. Adler menyatakan inferoritas dengan “feminitas” dan kompensasinya disebut “protes maskulin”.
Adler menyatakan bahwa inferiritas bukan suatu tanda abnormalitas; melainkan penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia di dorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler tujuan hidup adalah kesempurnaan bukan kenikmatan.
D.    Minat Sosial
Minat Sosial berupa individu membantu masyarakat mencapai tujuan terciptanya masyarakat yang sempurna. Minat sosial merupakan kompensasi sejati dan tidak dapat dielakan bagi semua kelemahan manusia. Adler yakin bahwa minat sosial bersifat bawaan, karena itu ia menyediakan banyak waktu untuk mendirikan klinik bimbingan anak-anak, dan mendidik masyarakat tentang cara yang tepat dalam mengasuh anak.
Manusia didorong oleh nafsu akan kekuasaan dan didominasi yang tak terpuaskan oleh nafsu kekuasaan untuk mengkompensasikan suatu perasaaan inferoritas yang dalam dan tersembunyi. Di mata Adler tua, manusia dimotivasi oleh minat sosial bawaan yang menyebabkan ia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
E.     Gaya Hidup
Gaya hidup adalah suatu prinsip sistem, dengan mana kepribadian individu berfungsi; keseluruhanlah yang memerintah bagian-bagiannya. Gaya hidup merupakan prinsip idiografikAdler yang utama yang menjelaskan keunikan individu. Gaya hidup terbentuk sangat dini pada masa kanak-kanak, pada usia empat atau lima tahun.
Gaya hidup sebagian besar ditentukan oleh inferoritasinferoritas khusus, baik itu khayalan atau sesuatu yang nyata. Misalnya gaya hidup Napolen yang bersifat “serba menaklukan”. Itu bersumber pada tubuhnya yang sangat kecil. Kemudian nafsu “serakah” Hitler untuk menaklukan dunia, bersumber pada impotensi seksualnya.
F.     Diri Kreatif
Konsep ini merupakan puncak prestasi Adler sebagai teorikus kepribadian. Ketika ia menemukan daya kreatif pada diri, maka konsep yang lain ia tempatkan di bawah konsep ini. Diri kreatif bersifat padu, konsisten, berdaulat dalam struktur kepribadian.
Kepribadian merupakan jembatan stimlus-stimulus yang menerpa seseorang dan respon-respon yang diberikan  orang yang bersangkutan terhadap stimulus itu. Pada hakikatnya doktrin tentang kreatif itu menyatakan bahwa manusia membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia membangun kepribadiannya dari bahan mentah hereditas dan pengalaman.
G.    Penelitian Khas Dan Metode Penelitian
Observasi-observasi empiris Adler sebagian besar dilakukan di lingkungnan terapeutik, dan paling banyak berupa rekonstruksi tetang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien-pasien, dan penilaian-penilaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan verbal. Beberapa penelitian nya:


V.              TEORI ERICH FROMM

setiap individu mempunyai dua aspek, aspek binatang dan aspek manusia, yang merupakan kondisi-kondisi dasar dari keberadaan manusia
Pemahaman tentang jiwa manusia harus didasarkan pada analisis tentang kebutuhan-kebutuhan manusia yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya.Menurut Fromm ada 5 kebutuhan spesifik yang berasal dari kondisi eksistensinya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah:
            1. Kebutuhan akan keterhubungan ( hubungan sealu ada perhatian )
            2. Kebutuhan akan transendensi (kebutuhan orang untuk mengatasi kodrat                            binatangnya agar menjadi orang yang kreatif dan bukan sekedar menjadi                   makhluk saja)
            3. Kebutuhan akan keterberakaran (pada masa kanak-kanak, manusia berakar pada                ibunya)
            4. Kebutuhan akan identitas (menunjukkan bahwa perasaan identitas timbul dari                    memiliki seseorang dan bukan dari menjadi seseorang)
            5. Kebutuhan akan kerangka orientasi (cara yang stabil dan konsisten dalam                          memandang dan memahami dunia)               

5 tipe karakter sosial yang ditemukan dalam masyarakat dewasa ini, yaitu:
            1. Reseptif
            2. Eksploitatif
            3. Penimbunan
            4. Pemasaran
            5. Produktif

VI.          HORNEY

Konsep utama dari horney adalah kecemasan, Segala hal yang mengganggu keamanan dasar anak dalam hubungan keluarga menghasilkan kecemasan dasar. Hubungan yang tergangu menakibatkan masala kecemasan. Horney membagi 10 dafrtar kebutuhan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  1. Kebutuhan neurotik akan afeksi dan persetujuan.
  2. Kebutuhan neurotik akan orang yang menaggung hidup
  3. Kebutuhan neurotik membatasi hidup dalam batas-batas yang sempit.
  4. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan.
  5. Kebutuhan neurotik untuk mengeksplorasi orang lain.
  6. Kebutuhan neurotik akan prestise.
  7. Kebutuhan neurotik untuk dikagumi.
  8. Kebutuhan neurotik akan prestasi pribadi.
  9. Kebutuhan neurotik akan kecukupan diri dan kemandirian.
  10. Kebutuhan neurotik akan perlindungan dan kekebalan

Selain itu horney juga membagi karakter menjadi 3
  1. Tipe penurut: bergerak ke arah orang lain sebagai akibat-akibat kebutuhan yang kuat akan cinta dan persetujuan, serta bertingkah laku dengan cara yang sangat dependen.
  2. Tipe memisahkan diri: bergerak menjauhi orang lain sebagai akibat dari kebutuhan yang berlebihan untuk mandiri; mempertahankan jarak emosional dengan orang lain, sebab kedekatan menimbulkan kecemasan.
  3. Tipe agresif: bersifat melawan orang lain; memiliki kedutuhan akan mengendalikan orang lain; memandang hidup sebagai perjuangan untuk tetap bertahan.

VII.      TEORI STACK SULIVAN
7.1  Struktur Kepribadian
Sullivan menegaskan bahwa kepribadian adalah suatu entitas atau kesatuan hipotesis belaka, “suatu ilusi” yang tidak dapat diobservasi atau diteliti terlepas dari situasi-situasi antarpribadi. Yang menjadi unit penelitian adalah situasi antarpribadi dan bukan orangnya. Proses pentig :
1.       Dinamisme
Dinamisme adalah pola yang spesifik dan berulang dari tingkah laku yang menjadi ciri khas seorang.
2.      Personifikasi
Personifikasi adalah suatu gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya sendiri atau orang lain. 
3.      Kongnitif
hubungannya dengan kepribadian. Di klarifikasikan menjadi 3 :
-          Prototaksis (Prototaxis) adalah rangkaian pengalaman yang terpisah-pisah yang dialami pada masa bayi, dimana arus kesadaran (pengindraan, bayangan dan perasaan) mengalir kedalam jiwa tanpa pengertian “sebelum” dan “sesudah”
-                 Parataksis (Parataxis). Kira-kira pada awal tahun kedua, bayi mulai mengenali persamaan-persamaan dan perbedaan peristiwa-peristiwa, disebut pengalaman parataksis atau pengalaman asosiasi. 
-          Sintaksis (Syntaxis). Berfikir logik dan realistik, menggunakan lambang-lambang yang diterima bersama, khususnya bahasa - kata - bilangan

7.2  Dinamika Kepribadian
a.      Tegangan
Sumber tegangan : Tegangan-tegangan yang disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan organisme (lapar, haus), Tegangan-tegangan sebagai akibat dari kecemasan. (rasa aman)
b.       Transformasi energi : Energi ditransformasikan dengan melakukan pekerjaan. Pekerja bisa berupa kegiatan-kegiatan yang melibatkan otot-otot badan atau berupa kegiatan-kegiatan mental, seperti persepsi, ingatan, berpikir.          
7.3  Perkembangan Kepribadian
a.       Tahap-tahap perkembangan
1.      Bayi (Infancy); Lahir – Bisa Berbicara (0 – 18 bulan). Interaksi utama daerah oral. Ciri :
-          Timbulnya apati dan mengantuk
-          Pengarahan ke prototaksik ke parataksik
-          Organisasi personifikasi-personifikasi, baik personifikasi ibu maupun personifikasi diri.
-          Organisasi pengalaman melalui belajar dan munculnya dasar-dasar sistem-diri.
-          Belajar bahasa
-          Bayi  mengenal dan memanipulasi tubuh.
-          Belajar melakukan gerakan
2.      Anak (Childhood); Bisa Mengucap Kata – Butuh Kawan Bermain (1;5 – 4 tahun)
Anak mulai belajar mengembangkan bahasa dan mlai tumbuh keinginan mencari teman bermain. Mulai menyembunyikan tingkah laku yang bisa menimbulkan hukuman.

3.   Remaja Awal (Juvenile); Usia Sekolah – Berkeinginan Bergaul Intim (4 – 10 tahun)
Perkembangan penting dalam tahap ini adalah loncatan sosial kedepan, anak belajar kompetisi, kompromi, kerja sama dan memahami makna perasaan kelompok. Mereka mendapat pengalaman dengan otoritas di luar rumah

4.  Preadolesen (preadolescence); Mulai Bergaul Akrab – Pubertas (8/10 – 12 tahun)
Preadolesen ditandai oleh awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain bercirikan persamaan yang nyata dan saling memperhatikan. Mereka membutuhkan Chum (Chum): teman akrab dari jenis kelamin yang sama, teman yang dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati, dan bersama-sama mencoba memahami dan memecahkan masalah hidup



5.      Adolesen Awal (Early Adolescence); Pubertas – Pola Aktivitas Seksual yang Mantap (12-16 tahun)
Pada tahap ini pola aktivitas seksual yang memuaskan seharusnya sudah dapat dimiliki. Banyak problem yang muncul pada periode ini merefleksikan konflik antar tiga kebutuhan dasar: Keamanan (bebas dari kecemasan), keintiman (pergaulan akrab dengan seks lain) dan kepuasan seksual.

6.      Adolesen Akhir (Late Adolescense); Kemantapan Seks – Tanggung Jawab Sosial (16 – awal 20an)
pengalaman semakin banyak terjadi pada tingkat berpikir sintaksis. Apakah orang bekerja atau melanjutkan kuliah, mereka harus memperluas pemahamannya mengenai sikap hidup orang lain

7.      Kemasakan (Maturity)
Menurut Sullivan, di antara pencapaian-pencapaian itu, intimasi yang paling penting karena sudah belajar memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang penting; bekerjasama dan berkompetensi dengan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar