ya barangkali bisa jadi inspirasi buat yang lain. tapi inget sebelun copas di baca dulu jangan langsung copas. nanti
TEORI –TEORI
PSIKODINAMIK (KLINIS)
I.
TEORI SIGMUND FREUD
Sigmund Freud lahir di moravia, 6 mei 1856. Merupakan
seorang yang menemukan Teori psikodinamika. Dia
memberi nama aliran psikologi yang ia kembangkan dengan nama psikoanalisis.
Dalam teorinya Teori Psikoanalisis
hanya membicarakan tentang kepribadian khussnya dari segi segi struktur,
dinamika, dan perkembangan.
1.1 Struktur kepribadian
Kepribadian terdiri dari 3 unsur pokok id,
ego, super ego.
a.
ID
Kepribadian yang diwariskan dan sudah ada
sejak lahir. Cara kerja id di sebut prinsip kenikmatan (pleasure principle) dengan tujuan untuk
mendapat keseimbangan. Untuk mendapat kenik matan id memiliki 2 proses tindakan
refleks (reaksi otomatis. misal:bersin, berkedip) dan proses primer (
menghentikan tegangan dengan berkhayal. Misal : membyangkan makan ketika lapar)
b.
Ego
Aspek kepribadian yang di dapat dari
interaksi individu dengan lingkungan. Berfungsi
menuntun individu pada kenyataan dengan dasar prinsip realitas (reality principle).
Misal orang yg lapar harus mencari, menemukan dan memakan makanan sampai
laparnya hilang. Proses yang tidak simple ini di sebut juga proses sekunder
c.
Super ego
Perwujutan dari nilai-nilai dan norma-norma
idealis dengan batasan tertentu sehingga tiap individu diharapkan bisa menuju
ke kesempurnaan. Misal pemberian hadiah dari orangtua untuk tindakan anak yang
benar dan hukuman untuk kesalahan. Fungsi utama dari super ego : pengendali
naluri agar dapat disalurkan sesuai nilai/norma, mengarahkan ego sesuai norma,
mendorong pada kesempurnaan
1.2 Dinamika kepribadian
Energi psikis (pikiran) dapat di ubah menjadi
energi fisik begitupun sebaliknya. Titik hubung antar energi adalah id dan
insting
a.
Insting (naluri)
Adalah perwujudan psikologis dari tubuh
karena adanya kebutuhn dari tubuh. \
-
Insting hidup : berkaitan dengan memenuhi kebutuhan tumbuh kembang.
misal seks
-
Insting mai : berkaitan dengan
keinginan untuk mati, merusak dan membunuh
b.
Kecemasan
Berfungsi memperingatkan individu akan adanya
bahaya. Dibagi menjadi 3
Kecemasan objektif (realita) :
ketakukan akan bahaya nyata. Misal bencana alam
Kecemasan neuritis : ketautan akan hukuman/ kesalahan. Misal
anak takut di hukum
-
Kecemasan oral : ketakutan akan suara hati. Misal Takut
melakukan sesuatu
1.3 Perkembangan kepribadian
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
kepribadian
Dipengarui oleh kematangan
dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Cara mengatasi keteganagan dengan:
Identifikasi,sublimasi,mekanisme pertahanan ego.
b. Tahap-tahap perkembangan kepribadian
Bagian tubuh yang
pekaterhadap rangsangan
1)
Fase
oral (oral stage) : 0 - 18 bulan. Mulut .
2) Fase anal (anal stage) : 18 bulan- 3 tahun. Anus
3) Fase falis (phallic stage) : 3 - 6 tahun.
Alat kelamin
4) Fase laten (latency stage) : 6 – pubertas.
dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan
5) Fase genital (genital stage) : pubertas – akhir.
Organ reproduksi
II.
TEORI KEPRIBADIAN ERIK H. ERIKSON
Terdapat 8 tahapan pada teori erikson
- 1. Tahap I : kepercayaan verss kecurigaan dasar (0-1 tahun) : belajar menepis kekecewaan & menemukan pengharapan
- 2. Tahap II : Otonomi vs perasaan malu & keragu-raguan (l-3 tahun) : belajar mengontrol dan di kontrol serta rasa malu saat kehilangan kontrol
- 3. Tahap III : Inisiatif vs Kesalahan (3-6 tahun) : belajar menampilkan diri
- 4. Tahap IV : Kerajinan Vs inferioritas (6-12 tahun) : belajar rajin dan persaingan pendidikan
- 5. Tahap V : Identitas vs kekacauan identitas (12-20 tahun) : mencari identitas diri
- 6. Tahap VI : Keintiman vs Isolasi (masa dewasa muda, 20-30 tahun) : belajar menyatukan identitas dengan lingkungan. Ketidak berhasilan menyebabkan kesendirian
- 7. Tahap VII : Generativitas vs stagnasi (masa dewasa menengah, 30-65 tahun) : memberikan balasan terhadap lingkungan dan timbul rasa kepeduian. Ketidak berhasilan menyebabkan kemiskinan
- 8. Tahap VIII : Integritas vs keputusasaan (masa dewasa akhir, 65 tahun ke atas) : membanggakan diri sendiri, ke tidak berhasilan menyebabkan putus asa dalam hidup.
III.
TEORI CARL GUSTAV JUNG
3.1 Struktur Kepribadian
Kepribadian
adalah keseluruhan sistem yang berbeda (pikiran,perasaan dan tingkah laku) namum
saling berinteraksi. Sistem – sistem terpeting :
a.
Kesadaran
dan ego : pikiran-pikiran
sadar
b.
Ketidak
sadaran pribadi : pengalaman yang
pernah ada namun ingin atau terlupakan
c.
Ketidak
sadaran kolektif : pengalaman masa
lampau yang dibawa leluhur
Cara mengenali ketidak sadaran
·
· Arkhetipe-Arkhetipe
Arkhetipe
adalah suatu ide universal yang terdapat unsur emosi yang tinggi. menciptakan
gambaran-gambaran dalam kehidupan sadar normal berkaitan dengan aspek tertentu
pada situasi.
·
· Persona
Persona
adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap
tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta terhadap
kebutuhan-kebutuhan arkhetipal sendiri(Jung,1945). Tujuan topeng adalah
menyembunyikan sisi lain pengguna.
·
· Anima
dan animus
Manusia
hakikatnya adalah makhluk biseksual. laki-laki mengeluarkan hormon seks
laki-laki maupun perempuan, demikian juga wanita.Pada sifat-sifat maskulin dan
feminin terdapat pada kedua jenis. Jung mengaitkan sisi feminine kepribadian
pria dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Arkhetipe
fenimin pada pria disebut anima, arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus
(Jung,1945,1945b).
·
· Bayang-bayang
Bayang-bayang
mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia. Sebagai arkhetipe
,bayang-bayang melahirkan dalam diri kita konsepsi tentang dosa asal; apabila
bayang-bayang diproyeksikan keluar maka ia menjadi musuh
·
· Diri (Self).
Arkhetipe
yang mencerminkan perjuangan manusia kearah kesatuan (Wilhelm dan Jung 1931).
Diri adalah titk pusat kepribadian, disekitar mana semua sistem lain
terkonstelasikan. Ia mempersatukan sistem-sistem ini dan memberikan kepribadian
dengan kesatuan, keseimbangan dan kestabilan pada kepribadian.
a.
Sikap
Jung
membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian,yakni sikap ekstraversi
dan sikap introversi. Sikap ektraversi mengarah sang pribadi ke dunia luar,
dunia objetif; sikap introversi mengarahkan orang ke dunia dalam,dunia subjektif
(1921). Kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam kepribadian tetapi biasanya
salah satu diantaranya dominan dan sadar. Apabila ego lebih bersifat ekstavert
dalam relasinya dengan dunia, maka ketidaksadaran pribadinya akan bersifat
introvert
b.
Fungsi
Ada
empat fungsi psikologis fundamental:
a. Pikiran :Berpikir melibatkan ide-ide dan
intelek.
b. Perasaan :Sebagai evakuasi untuk
mendalami banak rasa
c. Pendiriaan :Pendirian adalah fungsi
perceptual atau fungsi kenyataan.
d. Intuisi : Intuisi adalah persepsi melalui proses-proses tak sadar dan isi di
bawah ambang kesadaran.
3.2 DINAMIKA KEPRIBADIAN
a. Energi Psikis
Energi
yang menjalankan fungsi kepribadian disebut energi psikis(Jung,1948b). Energi
psikis merupakan awal energi kehidupan, yakni energi organisme sebagai sistem
biologis. Energi psikis lahir seperti semua energi vital lain,yakni dari
proses-proses metabolik tubuh. Keinginan, kemauan, perasaan, perhatian, dan
perjuangan adalah contoh-contoh dalam kepribadian; disposisi, bakat,
kecenderungan, kehendak hati, dan sikap adalah contoh-contoh daya potensial.
·
Nilai-Nilai Psikis.
Jumlah
energi psikis yang tertanam dalam salah satu unsur kepribadian disebut nilai
dari unsur itu. Ide atau perasaan tersebut memainkan peranan pentingdalam
mencetuskan dan mengarahkan tingkah laku.
·
Daya
Konstelasi Suatu Kompleks.
Nilai-nilai
tak sadar harus ditentukan dengan menilai “daya konstelasi unsur inti suatu
kompleks“ yang terdiri dari jumlah kelompok-kelompok item yang dihubungkan oleh
unsur inti kompleks. Jung membicarakan tiga metode yang dapat dipakai untuk
menaksir daya konstelasi unsur inti :
1) Observasi langsung
plus deduksi-deduksi analitik. Melalui observasi dan inferensi kita dapat
mengestimasikan jumlah asosiasi yang terikat pada suatu unsur inti.
2) Indikator-indikator
kompleks. Indikator kompleks adalah suatu gangguan tingkah laku yang
menunjukkan adanya kompleks.
3) Intensitas ungkapan
emosi. Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap suatu situasi merupakan
ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks.
b. Prinsip
Ekuivalensi.
Energi
yang di keluarkan untuk menghasilkan kondisi tertentu akan muncul di tempat
lain pula.
3.3 PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1. Kausalitas versus
Teleologi
2. Sinkronisitas : Prinsip sinkronisitas
kiranya akan memperbaiki pandangan bahwa pikiran menyebabkan terjadinya
hal-hal yang dipikirkan
3. Hereditas : insting
memelihara dir dan berreproduksi
4. Tahap-tahap
perkembangan
5. Progresi dan
Regresi : mempersatukan suatu arus
proses psikis yang terkoordinasi dan harmonis.
6. Proses individuasi
: proses realisasi diri
7. Fungsi transenden : Apabila keanekaragaman telah
dicapai lewat proses indiiduasi, maka
sistem-sistem yang berdiferensiasi itu kemudian diintegrasikan oleh fungsi
transenden
8. Sublimasi dan
represi : Sublimasi menyebabkab psikhe
bergerak maju, sedangakan represi menyebabkan psikhe bergerak mundur
9. Perlambangan : melambangkan tingkat
perkembangan
IV.
TEORI ALFRED ADLER
A. Finalisme Fiktif
Adler terpengaruh filsafat
hans Vaihinger yang mengembangkan gagasan akan gamabaran fiktif.
Gambaran-gambaran fiktif ini misalnya: “semua manusia diciptakan sama”;
“kejujuran adalah politik yang paling baik”; “tujuan membenarkan sarana”, dan
lain-lain.
Adler menemukan ide bahwa
manusia lebih dimotivasi oleh harapan-harapannya tentang masa depan daripada
masa lampau. Misalnya apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang baik dan
neraka bagi orang jahat, maka perilaku akan terdorong oleh
kepercayaan-kepercayaan tersebut. Tujuan akhir itu berupa suatu fiksi
yang tidak mungkin secara realistis dilakukan.
B. Perjuangan
ke arah Superioritas
Adler memberi kesimpulan bahwa
agresif itu lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu
diganti dengan “hasrat dan kekuasaan”. Karena itu tujuan akhir manusia menurut
Adler yaitu : Menjadi Agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan. Ia merupakan dorongan kuat
ke atas. Perjuangan ini sifatnya bawaan, dan merupaka bagian dari hidup. Dari
lahir sampai mati perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi dari
satu tahap perkembangan ke perkemabangan lainnya.
C. Inferoritas dan Kompensasi
Adler mengemukakan bahwa yang
menentukan letak gangguan tertentu adalah inferoritas dasar pada bagian itu, suatu inferoritas yang timbul karena hereditas maupun
karena kelainan sesuatu dalam perkembangan. Selanjutnya ia mengamati orang
cacat sering kali mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuat
latihan secara intensif,
misalnya Theodore Roosevelt yang lemah pada masa mudanya, tetapi berkat latihan
yang sistematik akhirnya menjadi orang yang berfisik tegap.
Perasaan inferoritas merupakan perasaan yang muncul akibat
kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun yang muncul dari kelemahan atau
cacat tubuh. Adler menyatakan inferoritas dengan “feminitas” dan
kompensasinya disebut “protes maskulin”.
Adler menyatakan bahwa
inferiritas bukan suatu tanda abnormalitas; melainkan penyebab segala bentuk
penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia di dorong oleh
kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya
dan ditarik hasrat menjadi superior. Bagi Adler tujuan hidup adalah
kesempurnaan bukan kenikmatan.
D. Minat
Sosial
Minat Sosial berupa individu
membantu masyarakat mencapai tujuan terciptanya masyarakat yang sempurna. Minat
sosial merupakan kompensasi sejati dan tidak dapat dielakan bagi semua
kelemahan manusia. Adler yakin bahwa minat sosial bersifat bawaan, karena itu
ia menyediakan banyak waktu untuk mendirikan klinik bimbingan anak-anak, dan
mendidik masyarakat tentang cara yang tepat dalam mengasuh anak.
Manusia didorong oleh nafsu
akan kekuasaan dan didominasi yang tak terpuaskan oleh nafsu kekuasaan untuk
mengkompensasikan suatu perasaaan inferoritas yang dalam dan tersembunyi. Di mata
Adler tua, manusia dimotivasi oleh minat sosial bawaan yang menyebabkan ia
menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
E. Gaya
Hidup
Gaya hidup adalah suatu
prinsip sistem, dengan mana kepribadian individu berfungsi; keseluruhanlah yang
memerintah bagian-bagiannya. Gaya hidup merupakan prinsip idiografikAdler yang utama yang
menjelaskan keunikan individu. Gaya hidup terbentuk sangat dini pada masa
kanak-kanak, pada usia empat atau lima tahun.
Gaya hidup sebagian besar
ditentukan oleh inferoritas–inferoritas khusus, baik itu khayalan atau sesuatu
yang nyata. Misalnya gaya hidup Napolen yang bersifat “serba menaklukan”. Itu
bersumber pada tubuhnya yang sangat kecil. Kemudian nafsu “serakah” Hitler
untuk menaklukan dunia, bersumber pada impotensi seksualnya.
F. Diri
Kreatif
Konsep ini merupakan puncak
prestasi Adler sebagai teorikus kepribadian. Ketika ia menemukan daya kreatif
pada diri, maka konsep yang lain ia tempatkan di bawah konsep ini. Diri kreatif
bersifat padu, konsisten, berdaulat dalam struktur kepribadian.
Kepribadian merupakan jembatan
stimlus-stimulus yang menerpa seseorang dan respon-respon yang diberikan
orang yang bersangkutan terhadap stimulus itu. Pada hakikatnya doktrin tentang
kreatif itu menyatakan bahwa manusia membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia
membangun kepribadiannya dari bahan mentah hereditas dan pengalaman.
G. Penelitian
Khas Dan Metode Penelitian
Observasi-observasi empiris
Adler sebagian besar dilakukan di lingkungnan terapeutik, dan paling banyak
berupa rekonstruksi tetang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien-pasien,
dan penilaian-penilaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan verbal.
Beberapa penelitian nya:
V.
TEORI ERICH FROMM
setiap individu
mempunyai dua aspek, aspek binatang dan aspek manusia, yang merupakan
kondisi-kondisi dasar dari keberadaan manusia
Pemahaman tentang
jiwa manusia harus didasarkan pada analisis tentang kebutuhan-kebutuhan manusia
yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya.Menurut Fromm ada 5 kebutuhan
spesifik yang berasal dari kondisi eksistensinya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut
adalah:
1. Kebutuhan akan keterhubungan (
hubungan sealu ada perhatian )
2. Kebutuhan akan transendensi
(kebutuhan orang untuk mengatasi kodrat binatangnya agar menjadi orang yang kreatif
dan bukan sekedar menjadi makhluk saja)
3. Kebutuhan akan keterberakaran
(pada masa kanak-kanak, manusia berakar pada ibunya)
4. Kebutuhan akan identitas
(menunjukkan bahwa perasaan identitas timbul dari memiliki
seseorang dan bukan dari menjadi seseorang)
5. Kebutuhan akan kerangka orientasi (cara yang stabil dan konsisten dalam memandang
dan memahami dunia)
5 tipe karakter sosial yang ditemukan dalam masyarakat
dewasa ini, yaitu:
1. Reseptif
2. Eksploitatif
3. Penimbunan
4. Pemasaran
5. Produktif
VI.
HORNEY
Konsep utama dari
horney adalah kecemasan, Segala hal yang mengganggu keamanan dasar anak dalam
hubungan keluarga menghasilkan kecemasan dasar. Hubungan yang tergangu
menakibatkan masala kecemasan. Horney membagi 10 dafrtar kebutuhan untuk
menyelesaikan masalah tersebut.
- Kebutuhan neurotik akan afeksi dan persetujuan.
- Kebutuhan neurotik akan orang yang menaggung hidup
- Kebutuhan neurotik membatasi hidup dalam batas-batas yang sempit.
- Kebutuhan neurotik akan kekuasaan.
- Kebutuhan neurotik untuk mengeksplorasi orang lain.
- Kebutuhan neurotik akan prestise.
- Kebutuhan neurotik untuk dikagumi.
- Kebutuhan neurotik akan prestasi pribadi.
- Kebutuhan neurotik akan kecukupan diri dan kemandirian.
- Kebutuhan neurotik akan perlindungan dan kekebalan
Selain itu horney juga membagi karakter menjadi 3
- Tipe penurut: bergerak ke arah orang lain sebagai akibat-akibat kebutuhan yang kuat akan cinta dan persetujuan, serta bertingkah laku dengan cara yang sangat dependen.
- Tipe memisahkan diri: bergerak menjauhi orang lain sebagai akibat dari kebutuhan yang berlebihan untuk mandiri; mempertahankan jarak emosional dengan orang lain, sebab kedekatan menimbulkan kecemasan.
- Tipe agresif: bersifat melawan orang lain; memiliki kedutuhan akan mengendalikan orang lain; memandang hidup sebagai perjuangan untuk tetap bertahan.
VII.
TEORI STACK SULIVAN
7.1 Struktur Kepribadian
Sullivan menegaskan bahwa
kepribadian adalah suatu entitas atau kesatuan hipotesis belaka, “suatu ilusi”
yang tidak dapat diobservasi atau diteliti terlepas dari situasi-situasi
antarpribadi. Yang menjadi unit penelitian adalah situasi antarpribadi dan
bukan orangnya. Proses pentig :
1.
Dinamisme
Dinamisme adalah pola yang
spesifik dan berulang dari tingkah laku yang menjadi ciri khas seorang.
2.
Personifikasi
Personifikasi adalah suatu
gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya sendiri atau orang lain.
3.
Kongnitif
hubungannya dengan
kepribadian. Di klarifikasikan menjadi 3 :
-
Prototaksis
(Prototaxis) adalah rangkaian pengalaman
yang terpisah-pisah yang dialami pada masa bayi, dimana arus kesadaran
(pengindraan, bayangan dan perasaan) mengalir kedalam jiwa tanpa pengertian
“sebelum” dan “sesudah”
-
Parataksis (Parataxis). Kira-kira
pada awal tahun kedua, bayi mulai mengenali persamaan-persamaan dan perbedaan
peristiwa-peristiwa, disebut pengalaman parataksis atau pengalaman asosiasi.
-
Sintaksis
(Syntaxis). Berfikir logik dan realistik, menggunakan lambang-lambang
yang diterima bersama, khususnya bahasa - kata - bilangan
7.2 Dinamika Kepribadian
a. Tegangan
Sumber tegangan : Tegangan-tegangan yang disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan
organisme (lapar, haus), Tegangan-tegangan sebagai akibat dari kecemasan. (rasa
aman)
b.
Transformasi energi : Energi
ditransformasikan dengan melakukan pekerjaan. Pekerja bisa berupa
kegiatan-kegiatan yang melibatkan otot-otot badan atau berupa kegiatan-kegiatan
mental, seperti persepsi, ingatan, berpikir.
7.3 Perkembangan
Kepribadian
a.
Tahap-tahap perkembangan
1.
Bayi
(Infancy); Lahir – Bisa Berbicara (0 – 18 bulan). Interaksi utama daerah oral.
Ciri :
-
Timbulnya apati dan mengantuk
-
Pengarahan ke prototaksik ke parataksik
-
Organisasi
personifikasi-personifikasi, baik personifikasi ibu maupun personifikasi diri.
-
Organisasi pengalaman
melalui belajar dan munculnya dasar-dasar sistem-diri.
-
Belajar bahasa
-
Bayi mengenal dan memanipulasi tubuh.
-
Belajar melakukan gerakan
2.
Anak
(Childhood); Bisa Mengucap Kata – Butuh Kawan Bermain (1;5 – 4 tahun)
Anak mulai belajar mengembangkan bahasa dan mlai tumbuh
keinginan mencari teman bermain. Mulai menyembunyikan tingkah laku yang bisa
menimbulkan hukuman.
3. Remaja Awal (Juvenile); Usia Sekolah – Berkeinginan
Bergaul Intim (4 – 10 tahun)
Perkembangan penting dalam
tahap ini adalah loncatan sosial kedepan, anak belajar kompetisi, kompromi,
kerja sama dan memahami makna perasaan kelompok. Mereka mendapat pengalaman
dengan otoritas di luar rumah
4. Preadolesen (preadolescence);
Mulai Bergaul Akrab – Pubertas (8/10 – 12 tahun)
Preadolesen ditandai oleh
awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain bercirikan persamaan yang nyata
dan saling memperhatikan. Mereka membutuhkan Chum (Chum): teman akrab
dari jenis kelamin yang sama, teman yang dapat menjadi tempat mencurahkan isi
hati, dan bersama-sama mencoba memahami dan memecahkan masalah hidup
5. Adolesen Awal (Early Adolescence); Pubertas –
Pola Aktivitas Seksual yang Mantap (12-16 tahun)
Pada tahap ini pola
aktivitas seksual yang memuaskan seharusnya sudah dapat dimiliki. Banyak
problem yang muncul pada periode ini merefleksikan konflik antar tiga kebutuhan
dasar: Keamanan (bebas dari kecemasan), keintiman (pergaulan akrab dengan seks
lain) dan kepuasan seksual.
6. Adolesen Akhir (Late Adolescense); Kemantapan
Seks – Tanggung Jawab Sosial (16 – awal 20an)
pengalaman semakin banyak
terjadi pada tingkat berpikir sintaksis. Apakah orang bekerja atau melanjutkan
kuliah, mereka harus memperluas pemahamannya mengenai sikap hidup orang lain
7. Kemasakan (Maturity)
Menurut Sullivan, di antara
pencapaian-pencapaian itu, intimasi yang paling penting karena sudah belajar
memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang penting; bekerjasama dan berkompetensi
dengan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar