hai hai...., lagi semangat semangatnya nge-blog nih, sekarang mau share mk PSIKOLOGI INDISTRI DAN ORGANISASI yang kemaren jadi bahan uas. ini murni hasil pemikiran saya kecuali untuk yang soal ke 3, soalnya ambil dari beberapa sumber.pertanyaannya cukup rumit sih tapi menurut saya ini jawaban terbaik. dana da juga paper tentang LEADESHIP / KEPEMIMPINAN.
Boleh di copas tapi di baca dulu ya, jadikan ini refrensi saja...
___________________________________________________________________________________
TUGAS
PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
1. Jika
anda menjadi Seorang Psikologi apa yang anda bisa lakukan dalam interfensi
Industri dan Organisasi?
2.
|
Keterangan :
ST : Sangat Tinggi
T : Tinggi
S : Sedang
SR : Sedang Rendah
|
|
Siakap
kerja
|
Orang
A
|
Orang
B
|
|
Cepat
|
T
|
S
|
|
Teliti
|
S
|
S
|
|
Daya Tahan
|
S
|
S
|
|
Hasrat Bekerja
|
ST
|
S
|
|
Sistematika
|
S
|
S
|
|
Tekun
|
T
|
T
|
|
|
|
|
|
Emosi
|
S
|
SR
|
|
Tanggungjawab
|
S
|
S
|
|
Mandiri
|
T
|
S
|
|
Keterbukaan
|
S
|
S
|
|
Kerja Sama
|
S
|
S
|
Orang
A adalah kandidat yang murni sedangkan Orang B merupakan rekomendari dari salah
satu pejabat di tempat perekrutan. Dari hasil di atas manakah yang anda pilih
untuk menjadi karyawan ke 10? Berikan alasannya!
3. Jelaskan
apa yang anda ketahui tentang Leadership?
URAIAN
1. Pada
awal menjadi mahasiswa Psikologi saya berkeinginan untuk mengambil penjurusan
pada Psikologi Pendidikan karena saya ingin mendirikan sebuah Taman
Kanak-kanak. Namun saat pertama kali saya memasuki kelas PIO saya mendapat
gambaran bagaimana cabang-cabang Psikologi di palikasikan kedepannya. Saya
awalnya bersikukuh untuk tetap pada pendirian saya namun saat saya mendengarkan
dengan seksama terbersit pemikiran “Sepertinya saya lebih cocok penjurusan ke
PIO dari pada pendidikan” karena dengan Saya mengambil penjurusan PIO maka saya
akan bisa menciptakan suatu lembaga yang bukan hanya komersil namun juga
bermanfaat bagi masyarakat kebanyakan.
Untuk
kedepannya saya ingin menciptakan suatu lembaga yang berisikan anak anak yatim
piatu yang saya didik dan saya besarkan pada perusahaan saya. Dan saya akan
merangkul teman seprofesi untuk membangun citra PIO. Bukan hanya secara
komerssil namun juga mengedepankan pengabdian di masyarakat. Saya ingin para
Psikolog yang mengambil penjurusan PIO untuk saling membantu teman sejawatnya
dalam menangani masalah yang ada dalam suatu perusahaan atau organisasi dengan mengadakan
pertemuan rutin tidak harus bertemu langsung, kita bisa memanfaatkan teknologi
berupa video call. Dan saya ingin
kedepannya tiap-tiap Psikolog yang bekerja dalam Industri maupun Organisi lebih
menjujung tingi keadilan dan kemanusiaan dalam merecrut dan menangani masalah karyawan
agar tercapainya keadilan bagi tiap calon karyawan dan karyawan.
2. Saya
akan memilih Orang A, dengan pertimbangan sebagai berikut :
a. Saya
akan menjadi Psikolog yang jujur dan memberikan kesempatan yang sama untuk tiap
calon pegawai tanpa memandang orang terseut “titipan” atau bukan. Karena saya
ingin membenahi negri ini dengan memulainya dari hal-hal yang kecil yaitu
pejkerjaan saya. Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa jika kita memilih
calon pegawai “titipan” dan setelah diterima pegawai tersebut melakukan
kesalahan atau pelanggaran kita bisa meminta pertanggungjawaban dari sang
“penitip” menurut saya itu kurang manusiawi karena yang melakukan kesalahan
bukan seutuhnya sang “penitip” kenapa sang penitip yang dimintai pertanggungjawaban
kenapa bukan si pegawai? Beda halnya jika kita mengambil murni dari hasil test
tanpa menghiraukan dia titipan maupun bukan kesalahan yang dia perbuat akan
dilimpahkan kedia dan kita akan lebih professional dalam mengambil tindakan. Meskipun
kedepan dapat berdampak kurang baik pada
saya namun saya yakin masih banyak jalan
baik yang bisa saya tempuh dengan menerapkan prinsip keadilan.
b. Jika dilihat dari hasil Test Sikap Kerja,
kedua orang tersebut hampir mirip, yang menbedakan adalah kecepat, hasrat
kerja, emosi, kemandirian. Ketekunan mereka berdua sma sama tinggi namun hasrat
kerja dan kecepatan orang A lebih tinggidibandingkan
Orang B. Pekerjaan akan berjalan baik jika dimulai dengan hastrat kerja yang
tinggi, apalagi pada Orang A hastrat tinggi ditunjjang denegan kecepatan kerja
dan ketekunan akan menjadikan Orang A lebih unggul dari Orang B
c. Dalam
bekerja kita dituntut harus bisa bekerjasama dengan rekan kerja lain, dalam
bekerjasama kita juka dituntut untuk toleransi kepada rekan kerja, hal tersebut
membutuhlkan kontrok emosi yang cukup baik agar apabila terjadi konflik,
konflik tersebut tidak berunjung pada kekerasan. Jika dilihat dari hasil test
di atas Orang B memiliki pengendalian emosi yang kurang baik timhkat kerjasama
dan kemandirian kerja yang sedang. Jika dibandingkan dengan Orang A, orang A
memiliki pengendalian emosi yang relative sedang dan memiliki kemandirian yang
tinggi. Jika di bandingkan Orang A lebih sedikit biaik dari pada Orang B.
3. Uraian
mengenai Leadership/kepemimpinan akan saya uraikan apda paper saya (terlampir).
PAPER
KEPEMIMPINAN
__________________________________________________________________
BAB I
PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
1.1 Pengertian Kepemimpinan Menurut Tokoh
Banyak pengertian kepemimpinan yang disampaikan oleh
banyak ahli diantaranya :
·
Menurut George P.
Terry “Leadership is the activity of influencing exercised to strive willingly
for group objective". Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi
orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok
·
Menurut Robert
Tennenbaum, Irving R. Wischler, dan Fred Massarik“Leadership as interpersonal
influence exercised in a situation and directed, through the communication
process, toward the attainment of a specialized goal or goals”. Kepemimpinan
sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan
mela lui proses komunikasi ke arah tercapainya suatu tujuan ataupun
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
·
Menurut Harold
Koontz and Cyril O”Donnell “Leadership is influencing people to follow in the
achievement of a common goal” Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain agar
ikut serta dalammencapai tujuan umum
Dari beberapa uraian tokok diatas dapat
disimpulkan bahwa Kepemimpinan
adalah upaya untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan,
baik tujuan tersebut telah ditetapkan atau tujuan lain yang lebih luas. Upaya
tersebut lebih bersifat hubungan antar pribadi.
1.2
Pengertian
Pemimpin dan Bos
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki status tertinggi di
dalam kelompoknya, mendapat kepercayaan untuk membawa kelompok ke arah tujuan
bersama. Namun sering kita dengar istilah “Bos” dimana bos ini di definisikan
sebagai pemimpin yang otoriter dan tidak mementingkan bawahan atau rekan
kerjanya demi kepentingan pribadi. Berbeda dengan pemimpin yang mengarahkan
kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama
1.3
Fungsi Pemimpin
Fungsi
pemimpin banyak dan bervariasi, Ravin dan Rubin menyebutkan ada 4 fungsi
pemimpin, yaitu:
a. Membantu menetapkan tujuan
kelompok.
b. Memelihara kelompok.
c. Memberi simbol untuk identifikasi.
d. Mewakili kelompok terhadap kelompok lain
1.4
Factor-Factor Penentu Seseorang Menjadi Pemimpin
Ada beberapa faktor yang menjadikan seseorang menjadi
pemimpin. Masing-masing berbeda bergantung pada karakteristik kelompok yang dipimpinnya,
dan tujuan kelompok itu sendiri. Secara garis besar menurut William Foote
Whyte, ada 4 faktor yang menentukan seseorang menjadi pemimpin, yaitu:
a.
Operational
leadership
yaitu orang yang paling banyak inisiatif, menarik, dinamis,
menunjukkan pengabdian yang tulus, menunjukkan prestasi kerja dalam
kelompoknya.
b.
Popularity
yaitu orang yang paling banyak dikenal mempunyai kesempatan
untuk menjadi pimpinan
c.
The assumed
representative
yaitu orang yang dapat mewakili kelompoknya mempunyai
kesempatan besar untuk menjadi pemimpin
d.
The prominent
talent
yaitu orang yang mempunyai bakat kecakapan
yang menonjol dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin
BAB II
KEPEMINPINAN DALAM
PERUSAHAAN
2.1 Ciri-Ciri
Pemimpin Yang Berhasil
Terdapat pandangan dimasyarakat bahwa pemimpin
itu dilahirkan dan tidak semua orang bisa menjadi pemimpin, hanya orang orang
tertentu saja yang bisa menjadi pemimpin. Namun pada dasarnya pemimpin itu bisa
diciptakan pada diri masing masing individu. Tapi tidak dapat di pungkiri bahwa
Pemimpin yang baik mempunyai
kualitas yang lebih baik dari para pengikutnya. Ia mempunyai ciri-ciri yang
tidak dipunyai pengikutnya.
Marat (1982)
mengutip Carter, yang menemukan ciri-ciri perilaku pemimpin yang berhasil dari
penelitian yang dilakukan pada Angkatan Darat Amerika Serikat, sebagai berikut:
1. Performing professional and technical
speciality;
2. Knowing subordinates and showing
consideration for them;
3. Keeping channels of communication open;
4. Accepting personal responsibility and
setting an example;
5. Imitating and directing action;
6. Training men as a team;
7.
Making decisions
2.2 Jenis-Jenis Kepemimpinan
Banyak sudut pandang dalam mengklasifikasi
kepemimpinan. Secara garis besar paling tidak ada 5 macam kepemimpinan, yaitu:
a. Otoriter : pemimpin menentukan
segala-galanya.
b.
Demokratik : kerjasama antara
pemimpin dan anggota merupakan nafas dari model kepemimpinan ini.
c. Laissez faire : pemimpin pasif, anggotalah yang
banyak dominan.
d. Transaksional :, terjadi proses pertukaran timbal
balik dengan orientasi pada imbalan yang diberikan oleh pemimpinnya baik berupa
imbalan material, maupun immaterial.
e. Transpormasional :yaitu mementingkan kharisma, dan
mendorong anggota (individu) sesuai dengan individualitasnya untuk meraih
sukses.
BAB III
KONFLIK DALAM
PERUSAHAAN
Peran dari seorang pemimpin dalam organisasi maupun
perusahaan bukan hanya dalam memimpin jalannya organisasi maupun perusaan pada
tujuan utamanya, namun seorang pemimpin juga harus bisa mengatasi konflik yang
ada dalam organisasi maupun perusahaannya.
3.1 Penyebab
Konflik
Dalam suatu perusahaan atau organisasi penyebab
konflik dibagi menjadi 2 facor, yaitu:
A.
Factor Manusia
1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.
2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan
secara kaku.
3. Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual,
antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.
B. Faktor
Organisasi
1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya. Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau
sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam
penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen
dalam suatu organisasi.
2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi. Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai
spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah
pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan
harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara
unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan
perusahaan.
3. Interdependensi tugas. Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan
antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat
bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.
4. Perbedaan nilai dan persepsi. Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang
negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang
relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup
berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior men¬dapat tugas yang
ringan dan sederhana.
5. Kekaburan yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak
jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.
6. Masalah “status”.
Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan
meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai
sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.
7. Hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan,
pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar
unit/ departemen
3.2 Cara Mengatasi
Konflik
Mengatasi
konflik yang terjadi dalam suatu organisasi atau perusahaan bukan hal mudah
namum bisa dilaksanakan. Pemecahan konfik membutuhkan kesabaran, ketrampilan
dan cara-cara tertentu. Beberapa cara memecahkan konflik dalam perusahaan
antara lain:
·
Rujuk:
Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani
hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.
·
Persuasi:
Usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin
timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita
menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.
·
Tawar-menawar:
Suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling
mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan
komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit.
·
Pemecahan
masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan
memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan,
dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling
percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan
keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
·
Penarikan
diri:
Suatu penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari
hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu
berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung satu sama lain.
·
Pemaksaan
dan penekanan: Cara ini memaksa dan menekan pihak lain
agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang
formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat
dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering
kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara
terpaksa.
·
Intervensi
(campur tangan) pihak ketiga: Apabila fihak yang
bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan
buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.
·
Arbitrase
(arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua
pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini
mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik
daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.
·
Penengahan
(mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk
menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin
komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta
mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas
penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.
·
Konsultasi:
Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan
kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai
wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan
berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku
kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses
penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.
3.3 Hal-Hal Yang
Perlu Di Perhatikan Pemimpin Dalam Mengatasi Konflik
1. Ciptakan sistem dan pelaksanaan
komunikasi yang efektif.
2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.
4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.
5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.
7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.
8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.
2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.
4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.
5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.
7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.
8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.