Jumat, 24 Juni 2016

INTERFENSI INDUSTRI DAN ORGANISASI DAN LEADERSHIP / KEPEMIMPINAN

hai hai...., lagi semangat semangatnya nge-blog nih, sekarang mau share mk PSIKOLOGI INDISTRI DAN ORGANISASI yang kemaren jadi bahan uas. ini murni hasil pemikiran saya kecuali untuk yang soal ke 3, soalnya ambil dari beberapa sumber.pertanyaannya cukup rumit sih tapi menurut saya ini jawaban terbaik. dana da juga paper tentang LEADESHIP / KEPEMIMPINAN. 
Boleh di copas tapi di baca dulu ya, jadikan ini refrensi saja...

___________________________________________________________________________________

TUGAS PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
1.      Jika anda menjadi Seorang Psikologi apa yang anda bisa lakukan dalam interfensi Industri dan Organisasi?
2.     
Keterangan :
ST : Sangat Tinggi
T   : Tinggi
S   : Sedang
SR : Sedang Rendah

Anda seorang Psikolog yang sedang merekrut 10 orang dari 100 pelamar. Anda sudah memilih 9 orang dan tinggal memilih 1 orang.  Terdapat 2 kandidat kuat yang memiliki hasil test sebagai berikut:
Siakap kerja
Orang A
Orang B
Cepat
T
S
Teliti
S
S
Daya Tahan
S
S
Hasrat Bekerja
ST
S
Sistematika
S
S
Tekun
T
T



Emosi
S
SR
Tanggungjawab
S
S
Mandiri
T
S
Keterbukaan
S
S
Kerja Sama
S
S
Orang A adalah kandidat yang murni sedangkan Orang B merupakan rekomendari dari salah satu pejabat di tempat perekrutan. Dari hasil di atas manakah yang anda pilih untuk menjadi karyawan ke 10? Berikan alasannya!
3.      Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Leadership?




URAIAN

1.      Pada awal menjadi mahasiswa Psikologi saya berkeinginan untuk mengambil penjurusan pada Psikologi Pendidikan karena saya ingin mendirikan sebuah Taman Kanak-kanak. Namun saat pertama kali saya memasuki kelas PIO saya mendapat gambaran bagaimana cabang-cabang Psikologi di palikasikan kedepannya. Saya awalnya bersikukuh untuk tetap pada pendirian saya namun saat saya mendengarkan dengan seksama terbersit pemikiran “Sepertinya saya lebih cocok penjurusan ke PIO dari pada pendidikan” karena dengan Saya mengambil penjurusan PIO maka saya akan bisa menciptakan suatu lembaga yang bukan hanya komersil namun juga bermanfaat bagi masyarakat kebanyakan.
Untuk kedepannya saya ingin menciptakan suatu lembaga yang berisikan anak anak yatim piatu yang saya didik dan saya besarkan pada perusahaan saya. Dan saya akan merangkul teman seprofesi untuk membangun citra PIO. Bukan hanya secara komerssil namun juga mengedepankan pengabdian di masyarakat. Saya ingin para Psikolog yang mengambil penjurusan PIO untuk saling membantu teman sejawatnya dalam menangani masalah yang ada dalam suatu perusahaan atau organisasi dengan mengadakan pertemuan rutin tidak harus bertemu langsung, kita bisa memanfaatkan teknologi berupa video call. Dan saya ingin kedepannya tiap-tiap Psikolog yang bekerja dalam Industri maupun Organisi lebih menjujung tingi keadilan dan kemanusiaan dalam merecrut dan menangani masalah karyawan agar tercapainya keadilan bagi tiap calon karyawan dan karyawan.

2.       Saya akan memilih Orang A, dengan pertimbangan sebagai berikut :
a.       Saya akan menjadi Psikolog yang jujur dan memberikan kesempatan yang sama untuk tiap calon pegawai tanpa memandang orang terseut “titipan” atau bukan. Karena saya ingin membenahi negri ini dengan memulainya dari hal-hal yang kecil yaitu pejkerjaan saya. Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa jika kita memilih calon pegawai “titipan” dan setelah diterima pegawai tersebut melakukan kesalahan atau pelanggaran kita bisa meminta pertanggungjawaban dari sang “penitip” menurut saya itu kurang manusiawi karena yang melakukan kesalahan bukan seutuhnya sang “penitip” kenapa sang penitip yang dimintai pertanggungjawaban kenapa bukan si pegawai? Beda halnya jika kita mengambil murni dari hasil test tanpa menghiraukan dia titipan maupun bukan kesalahan yang dia perbuat akan dilimpahkan kedia dan kita akan lebih professional dalam mengambil tindakan. Meskipun  kedepan dapat berdampak kurang baik pada saya  namun saya yakin masih banyak jalan baik yang bisa saya tempuh dengan menerapkan prinsip keadilan.
b.       Jika dilihat dari hasil Test Sikap Kerja, kedua orang tersebut hampir mirip, yang menbedakan adalah kecepat, hasrat kerja, emosi, kemandirian. Ketekunan mereka berdua sma sama tinggi namun hasrat kerja dan kecepatan  orang A lebih tinggidibandingkan Orang B. Pekerjaan akan berjalan baik jika dimulai dengan hastrat kerja yang tinggi, apalagi pada Orang A hastrat tinggi ditunjjang denegan kecepatan kerja dan ketekunan akan menjadikan Orang A lebih unggul dari Orang B
c.       Dalam bekerja kita dituntut harus bisa bekerjasama dengan rekan kerja lain, dalam bekerjasama kita juka dituntut untuk toleransi kepada rekan kerja, hal tersebut membutuhlkan kontrok emosi yang cukup baik agar apabila terjadi konflik, konflik tersebut tidak berunjung pada kekerasan. Jika dilihat dari hasil test di atas Orang B memiliki pengendalian emosi yang kurang baik timhkat kerjasama dan kemandirian kerja yang sedang. Jika dibandingkan dengan Orang A, orang A memiliki pengendalian emosi yang relative sedang dan memiliki kemandirian yang tinggi. Jika di bandingkan Orang A lebih sedikit biaik dari pada Orang B.

3.      Uraian mengenai Leadership/kepemimpinan akan saya uraikan apda paper saya (terlampir).










PAPER
KEPEMIMPINAN

__________________________________________________________________

BAB I
PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

1.1 Pengertian Kepemimpinan Menurut Tokoh
Banyak pengertian kepemimpinan yang disampaikan oleh banyak ahli diantaranya :
·         Menurut George P. Terry “Leadership is the activity of influencing exercised to strive willingly for group objective". Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok
·         Menurut Robert Tennenbaum, Irving R. Wischler, dan Fred Massarik“Leadership as interpersonal influence exercised in a situation and directed, through the communication process, toward the attainment of a specialized goal or goals”. Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan mela lui proses komunikasi ke arah tercapainya suatu tujuan ataupun tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
·         Menurut Harold Koontz and Cyril O”Donnell “Leadership is influencing people to follow in the achievement of a common goal” Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalammencapai tujuan umum
Dari beberapa uraian tokok diatas dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan adalah upaya untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan, baik tujuan tersebut telah ditetapkan atau tujuan lain yang lebih luas. Upaya tersebut lebih bersifat hubungan antar pribadi.
1.2  Pengertian Pemimpin dan Bos
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki status tertinggi di dalam kelompoknya, mendapat kepercayaan untuk membawa kelompok ke arah tujuan bersama. Namun sering kita dengar istilah “Bos” dimana bos ini di definisikan sebagai pemimpin yang otoriter dan tidak mementingkan bawahan atau rekan kerjanya demi kepentingan pribadi. Berbeda dengan pemimpin yang mengarahkan kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama

1.3 Fungsi Pemimpin
Fungsi pemimpin banyak dan bervariasi, Ravin dan Rubin menyebutkan ada 4 fungsi pemimpin, yaitu:
            a. Membantu menetapkan tujuan kelompok.
b. Memelihara kelompok.
c. Memberi simbol untuk identifikasi.
d. Mewakili kelompok terhadap kelompok lain

1.4  Factor-Factor Penentu Seseorang Menjadi Pemimpin
Ada beberapa faktor yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin. Masing-masing berbeda bergantung pada karakteristik kelompok yang dipimpinnya, dan tujuan kelompok itu sendiri. Secara garis besar menurut William Foote Whyte, ada 4 faktor yang menentukan seseorang menjadi pemimpin, yaitu:
a.       Operational leadership
yaitu orang yang paling banyak inisiatif, menarik, dinamis, menunjukkan pengabdian yang tulus, menunjukkan prestasi kerja dalam kelompoknya.
b.      Popularity
yaitu orang yang paling banyak dikenal mempunyai kesempatan untuk menjadi pimpinan
c.       The assumed representative
yaitu orang yang dapat mewakili kelompoknya mempunyai kesempatan besar untuk menjadi pemimpin
d.      The prominent talent
yaitu orang yang mempunyai bakat kecakapan yang menonjol dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin


BAB II
KEPEMINPINAN DALAM PERUSAHAAN
2.1 Ciri-Ciri Pemimpin Yang Berhasil
       Terdapat pandangan dimasyarakat bahwa pemimpin itu dilahirkan dan tidak semua orang bisa menjadi pemimpin, hanya orang orang tertentu saja yang bisa menjadi pemimpin. Namun pada dasarnya pemimpin itu bisa diciptakan pada diri masing masing individu. Tapi tidak dapat di pungkiri bahwa Pemimpin yang baik mempunyai kualitas yang lebih baik dari para pengikutnya. Ia mempunyai ciri-ciri yang tidak dipunyai pengikutnya.



       Marat (1982) mengutip Carter, yang menemukan ciri-ciri perilaku pemimpin yang berhasil dari penelitian yang dilakukan pada Angkatan Darat Amerika Serikat, sebagai berikut:
1.    Performing professional and technical speciality;
2.    Knowing subordinates and showing consideration for them;
3.    Keeping channels of communication open;
4.    Accepting personal responsibility and setting an example;
5.    Imitating and directing action;
6.    Training men as a team;
7.    Making decisions

2.2 Jenis-Jenis Kepemimpinan
Banyak sudut pandang dalam mengklasifikasi kepemimpinan. Secara garis besar paling tidak ada 5 macam kepemimpinan, yaitu:
a. Otoriter                    : pemimpin menentukan segala-galanya.
b. Demokratik             : kerjasama antara pemimpin dan anggota merupakan nafas dari model kepemimpinan ini.
c. Laissez faire            : pemimpin pasif, anggotalah yang banyak dominan.
d. Transaksional          :, terjadi proses pertukaran timbal balik dengan orientasi pada imbalan yang diberikan oleh pemimpinnya baik berupa imbalan material, maupun immaterial.
e. Transpormasional      :yaitu mementingkan kharisma, dan mendorong anggota (individu) sesuai dengan individualitasnya untuk meraih sukses.




BAB III
KONFLIK DALAM PERUSAHAAN
Peran dari seorang pemimpin dalam organisasi maupun perusahaan bukan hanya dalam memimpin jalannya organisasi maupun perusaan pada tujuan utamanya, namun seorang pemimpin juga harus bisa mengatasi konflik yang ada dalam organisasi maupun perusahaannya.
3.1 Penyebab Konflik
Dalam suatu perusahaan atau organisasi penyebab konflik dibagi menjadi 2 facor, yaitu:
A.    Factor Manusia
1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.
2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.
3. Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.
B. Faktor Organisasi
1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya. Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.
2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi. Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.
3. Interdependensi tugas. Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.
4. Perbedaan nilai dan persepsi. Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior men¬dapat tugas yang ringan dan sederhana.
5. Kekaburan yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.
6. Masalah “status”. Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.
7. Hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen
3.2 Cara Mengatasi Konflik
Mengatasi konflik yang terjadi dalam suatu organisasi atau perusahaan bukan hal mudah namum bisa dilaksanakan. Pemecahan konfik membutuhkan kesabaran, ketrampilan dan cara-cara tertentu. Beberapa cara memecahkan konflik dalam perusahaan antara lain:
·         Rujuk: Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.
·         Persuasi: Usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.
·         Tawar-menawar: Suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit.
·         Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
·         Penarikan diri: Suatu penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung satu sama lain.
·         Pemaksaan dan penekanan: Cara ini memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara terpaksa.
·         Intervensi (campur tangan) pihak ketiga: Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.
·         Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.
·         Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.
·         Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.



3.3 Hal-Hal Yang Perlu Di Perhatikan Pemimpin Dalam Mengatasi Konflik
1. Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.
2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.
4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.
5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.
7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi   yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.
8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar